Dehonian Value 2025

Pada tanggal 22 Maret 2025, seluruh karyawan Santo Antonius Jakarta berkumpul di Aula Santo Antonius lantai 4 untuk menghadiri acara Dehonian Value yang mengusung tema Berkarya dengan Spiritualitas Hati. Acara ini bertujuan untuk menanamkan semangat bekerja dengan hati, mengembangkan sikap kasih, pengabdian, dan pelayanan dalam dunia pendidikan. Acara dimulai dengan sambutan dari Ketua KOY yaitu Romo Igantius Trisna Setiadi, SCJ yang menekankan pentingnya nilai-nilai spiritualitas dalam dunia pendidikan. Sambutan tersebut mengingatkan bahwa pendidikan tidak hanya sekadar mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan membangun budaya kasih di sekolah. Setelah sambutan, peserta diajak untuk mengikuti sesi ice breaking yang bertujuan untuk mencairkan suasana. Sesi pertama acara ini dipimpin oleh Romo Fransiskus Xaverius Marmidi, SCJ, yang membawakan materi tentang Spiritualitas Hati sebagai Landasan Karya Pendidikan. Romo Marmidi menyoroti krisis hati dan kasih yang terjadi di masyarakat modern. Beberapa poin utama yang diangkat dalam sesi ini adalah meningkatnya krisis kesehatan mental, menurunnya empati dalam masyarakat, meningkatnya polarisasi dan konflik sosial, serta eksploitasi dan ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain. Krisis ini juga tercermin dalam dunia pendidikan formal, di mana kasus perundungan semakin meningkat, rasa empati dan kasih di kalangan siswa menipis, serta kurangnya pendidikan emosional dan moral. Guru dan tenaga kependidikan sering kali terbebani dengan tekanan kerja yang tinggi, sementara kompetisi akademik yang berlebihan mengikis nilai kebersamaan. Romo Marmidi menegaskan bahwa meskipun dunia mengalami krisis hati dan kasih, bukan berarti perubahan tidak mungkin terjadi. Pemulihan empati melalui pendidikan emosional, membangun hubungan autentik, dan menanamkan kembali nilai-nilai kasih merupakan solusi yang dapat diterapkan. Sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan pendidikan karakter, membangun budaya saling peduli, serta mengajarkan pentingnya empati dalam kehidupan sehari-hari. Guru dan tenaga kependidikan juga perlu mendapatkan dukungan emosional agar dapat mendidik dengan penuh kasih. Dalam sesi berikutnya, peserta diajak untuk mendalami Spiritualitas Hati sebagai Pemulihan. Romo Marmidi menjelaskan bahwa spiritualitas hati bersifat batiniah, mencari makna hidup, bersifat transendental, serta mempengaruhi tindakan seseorang. Spiritualitas hati merujuk pada cara hidup yang berakar dalam kasih Allah dan terwujud dalam sikap hati yang penuh kelembutan, belas kasih, serta kesetiaan kepada Tuhan dan sesama. Hal ini ditekankan dalam dunia pendidikan agar guru dan tenaga kependidikan dapat melayani dengan ketulusan. Implementasi spiritualitas hati dalam dunia pendidikan melibatkan tiga aspek utama, yaitu guru yang mengajar dengan hati, tenaga kependidikan yang melayani dengan hati, serta lingkungan sekolah yang membangun budaya kasih dan kepedulian sosial. Dalam sesi kedua, Romo Marmidi membahas mengenai Transformasi Diri dan Komunitas melalui Spiritualitas Hati. Beliau mengangkat dasar ajaran Gereja Katolik tentang pendidikan, di mana pendidikan dianggap sebagai panggilan dan perutusan, serta sebagai sarana evangelisasi. Hati Yesus dijadikan sebagai model pendidikan, di mana kesabaran, kerendahan hati, dan kasih menjadi nilai utama dalam proses pembelajaran. Para pendidik diajak untuk menghadapi tantangan dengan iman dan pengharapan serta membangun relasi yang penuh kasih. Membangun budaya kasih di sekolah dapat diwujudkan melalui komunikasi yang penuh empati antara rekan kerja dan siswa, kolaborasi yang dilandasi semangat pelayanan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang penuh kasih dan hormat. Namun, tantangan dalam mewujudkan budaya hati kasih tetap ada, seperti kurangnya kesadaran akan pentingnya kasih, lingkungan yang kurang mendukung, serta minimnya keteladanan. Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan adalah pendidikan karakter yang konsisten, kebijakan sekolah yang mendorong interaksi positif, serta menumbuhkan keteladanan dalam berbicara, bertindak, dan bersikap. Sebagai penutup, Romo Marmidi menyampaikan bahwa spiritualitas hati dalam karya pendidikan adalah panggilan untuk mendidik dengan hati yang selaras dengan Hati Yesus. Guru dan tenaga kependidikan tidak hanya bertugas mencerdaskan, tetapi juga membentuk karakter dan iman peserta didik. Dengan meneladani kasih, kesabaran, dan kerendahan hati Yesus, pendidikan dapat menjadi sarana evangelisasi yang membawa terang Kristus ke dalam dunia. Sebagaimana yang tertulis dalam Amsal 22:6, “Didiklah anak itu menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu.”. Acara ditutup dengan sesi foto bersama. 

Misa Memperingati Hari Kelahiran Pater Leo Dehon ke-182

Dalam rangka memperingati 182 tahun kelahiran Pater Leo Dehon, mengenang 100 tahun wafatnya, serta merayakan 150 tahun berdirinya Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ), keluarga besar Santo Antonius mengadakan Misa Syukur yang berlangsung dengan khidmat. Acara ini diselenggarakan di lapangan SMP dan SMA Santo Antonius dan dihadiri oleh seluruh peserta didik dari unit SD, SMP, dan SMA, serta para guru dan tenaga kependidikan. Seluruh peserta misa mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah, mencerminkan kekayaan budaya yang ada di Indonesia serta semangat kebersamaan yang diajarkan oleh Pater Leo Dehon. Kehadiran anak-anak dengan pakaian adat ini menambah keseruan acara, sekaligus menjadi wujud nyata dari nilai keberagaman yang dijunjung tinggi di lingkungan sekolah Misa dimulai dengan suasana yang penuh syukur dan hormat, seluruh peserta mengikuti jalannya ibadah dengan penuh kekhusyukan. Suara doa yang terdengar berpadu dengan nyanyian merdu dari paduan suara SD Santo Antonius yang telah mempersiapkan diri dengan baik untuk melayani dalam perayaan misa ini. Pada saat homili, Romo Ignatius Trisna Setiadi, SCJ mengajak seluruh peserta misa untuk mengenal lebih dalam siapa Pater Leo Dehon. Beliau adalah seorang imam yang mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan kasih, pendidikan, dan keadilan sosial. Dalam homilinya, Romo juga mengajukan pertanyaan reflektif kepada para peserta misa mengenai makna perayaan ini dan bagaimana kita dapat meneladani semangat pelayanan yang diwariskan oleh Pater Leo Dehon. Sebagai bentuk keterlibatan aktif dalam misa, Romo Trisna memanggil beberapa anak yang mengenakan pakaian adat terbaik dari masing-masing jenjang pendidikan, termasuk seorang perwakilan dari para guru. Anak-anak tersebut maju ke depan dan berbagi pengalaman serta makna dari pakaian adat yang mereka kenakan. Momen ini menjadi salah satu bagian yang menarik dalam perayaan misa karena menampilkan keberagaman budaya dalam satu perayaan iman. Setelah misa selesai, seluruh peserta berfoto bersama sebagai kenang-kenangan atas perayaan yang istimewa. Suasana penuh kebersamaan dan sukacita tampak jelas dalam raut wajah para peserta yang merasa terberkati telah menjadi bagian dari perayaan ini.

Seminar DNA Talent

Pada kegiatan seminar yang wajib diikuti oleh para guru, dengan tema pembahsan “Talent DNA: Mengenali dan Mengoptimalkan Potensi Diri”. Seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya mengenali potensi diri melalui Talent DNA agar dapat mengembangkan kemampuan secara maksimal sesuai dengan bakat dan minat masing-masing. Dalam seminar ini, membahas mengenai konsep Talent DNA, yaitu bagaimana setiap individu memiliki keunikan dalam kemampuan dan keahlian. Tidak ada dua individu yang memiliki potensi yang sama persis, sehingga setiap orang harus menemukan dan mengembangkan kekuatan mereka sendiri. Dengan memahami Talent DNA, seseorang dapat lebih mudah memilih bidang yang sesuai dengan kemampuannya dan beradaptasi dalam berbagai situasi. Salah satu poin utama yang dibahas dalam seminar ini adalah bagaimana mengenali kelebihan dan kelemahan diri sendiri. Kelebihan yang dimiliki seseorang dapat menjadi modal utama dalam mencapai kesuksesan, sedangkan kelemahan bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang dapat diatasi dengan usaha yang lebih besar. Dengan memahami kedua aspek ini, seseorang dapat menentukan strategi yang tepat untuk mencapai tujuannya. Selain itu, seminar ini juga menekankan bahwa setiap individu memiliki keahlian yang berbeda-beda. Tidak semua orang unggul dalam bidang yang sama, sehingga penting untuk memahami bahwa perbedaan ini bukanlah kelemahan, melainkan keunikan yang harus dihargai. Dengan mengetahui bidang yang paling sesuai, seseorang dapat lebih mudah berkembang dan berkontribusi secara maksimal dalam lingkungan kerja. Namun, bukan berarti seseorang yang tidak memiliki keahlian dalam suatu bidang tidak bisa mencapainya. Dalam seminar ini dijelaskan bahwa meskipun merupakan bakat alami, seseorang tetap bisa menguasai suatu keterampilan dengan usaha yang lebih besar dan strategi yang tepat. Dengan kata lain, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh kerja keras dan ketekunan dalam belajar serta beradaptasi. Dalam sesi praktik, peserta diminta untuk mengisi sebuah form yang nantinya akan menghasilkan analisis kepribadian mereka berdasarkan Talent DNA. Hasil dari formulir ini akan memberikan gambaran mengenai tipe kepribadian masing-masing peserta, termasuk kelebihan, tantangan yang mungkin dihadapi, serta bidang yang paling sesuai untuk mereka. Setiap peserta mendapatkan penjelasan mendalam mengenai hasil mereka, termasuk di bagian mana mereka berada dalam spektrum kepribadian dan bagaimana cara menyikapinya secara bijak.

Dehonian Value

Pada tanggal 30 November 2024 Sekolah Antonius menyelenggarakan acara Dehonian Value dengan tema Bangga Menjadi Dehonian. Acara ini bertujuan untuk mengajak seluruh Guru, dan Tenaga Kependidikan menyadari pentingnya identitas diri dalam lingkungan sosial, serta membangun kebanggaan sebagai bagian dari komunitas Dehonian yang penuh nilai luhur. Melalui tema ini, peserta didorong untuk memahami bahwa kebanggaan identitas tidak sekadar tentang pengakuan sosial, tetapi juga menjadi daya untuk menghadirkan kebaikan dalam masyarakat. Identitas pribadi dan kelompok mencerminkan jati diri yang terbentuk melalui nilai-nilai yang diperjuangkan dan dihidupi. Dalam konteks Dehonian, kebanggaan ini tumbuh dari nilai-nilai love, compassion, readiness, sacrifice. Acara ini juga menyoroti pentingnya memahami identitas diri sebagai dasar membangun kepercayaan diri dan keterampilan. Identitas bukan hanya mengenai ciri khas individu atau kelompok, tetapi juga tentang bagaimana kita memposisikan diri di tengah keberagaman budaya, agama, dan nilai sosial. Identitas yang kuat memungkinkan seseorang menghadapi tantangan hidup dengan percaya diri dan bijak. Sebagai Dehonian, identitas dibentuk melalui pemahaman mendalam tentang nilai-nilai locoresa, ini menjadi panduan dalam setiap tindakan, termasuk dalam menjalankan peran sebagai Guru dan Tenaga Kependidikan di Santo Antonius, menunjukkan kebanggaan Dehonian melalui dedikasi luar biasa, seperti mendampingi anak-anak di luar jam mengajar, menempuh jarak jauh dengan semangat, dan menjalankan tugas dengan penuh cinta. Kesadaran bahwa perbuatan baik akan menghasilkan kebaikan menjadi inti dari perjuangan nilai-nilai Dehonian. Dengan cinta tanpa pamrih, para pendidik mempraktikkan imamat yang mencerminkan kasih ilahi. Mereka percaya bahwa kebanggaan sebagai Dehonian adalah wujud nyata dari identitas yang kokoh, yang membawa berkat bagi lingkungan sosialnya. Sebagai bagian dari acara, peserta didorong untuk merefleksikan nilai-nilai Dehonian yang mereka hidupi melalui diskusi kelompok. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah, “Apa saja nilai-nilai Dehonian yang saya hidupi?” Jawaban yang muncul serempak adalah locoresa. Melalui refleksi ini, peserta menyadari bahwa kebanggaan atas identitas diri lahir dari penghargaan terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi. Dalam perjalanan menuju kebanggaan identitas, tantangan seperti krisis identitas dan kebingungan arah sering kali muncul. Namun, dengan identitas diri yang kuat, seseorang dapat menghadapi tantangan ini dengan bijak, memperkuat ikatan sosial, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Acara ini juga mengingatkan pentingnya membangun kebanggaan sebagai bagian dari Indonesia. Identitas nasional sebagai orang Indonesia yang kaya budaya, alam, dan semangat gotong royong menjadi inspirasi untuk terus memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan. Kebanggaan menjadi Indonesia sejalan dengan kebanggaan sebagai Dehonian yang menjunjung tinggi harmoni dalam keberagaman. Dengan memadukan refleksi, diskusi, dan kisah inspiratif, Dehonian Value memberikan wawasan mendalam tentang makna identitas diri. Para peserta diajak untuk memahami bahwa identitas diri bersifat dinamis, berkembang seiring waktu dan pengalaman. Identitas mencakup aspek seperti nama, budaya, agama, nilai-nilai, bahasa, dan peran sosial yang terus berkembang seiring perjalanan hidup. Kebanggaan atas identitas diri memerlukan pengakuan dan penghargaan sosial. Hal ini tidak hanya menciptakan kepercayaan diri tetapi juga membangun keterampilan untuk menghadapi tantangan kehidupan. Identitas yang kuat adalah panduan menghadapi kebingungan arah, memungkinkan individu untuk tetap berakar pada nilai-nilai yang  diyakini. Melalui Dehonian Value, Santo Antonius berupaya menanamkan kesadaran bahwa identitas diri adalah fondasi yang membentuk jati diri seseorang. Kebanggaan Dehonian bukanlah sesuatu yang memecah belah, tetapi menjadi kekuatan untuk mempererat ikatan sosial dan membawa kebaikan bagi lingkungan.

Misa Syukur dan Perutusan Romo Edi Prasetyo, SCJ

Misa Syukur dan Perutusan Romo Edi Prasetyo SCJ berlangsung dengan penuh khidmat di Aula Lantai 4. Acara ini dihadiri oleh guru, tenaga kependidikan, dan perwakilan yayasan, serta diiringi oleh paduan suara dari Guru SMP Antonius. Misa ini merupakan wujud syukur dan apresiasi atas pelayanan Romo Edi selama bertugas di YPKLD, sekaligus menjadi momen kebersamaan untuk melepas beliau menuju tugas barunya. Acara diawali dengan misa yang dipimpin oleh Romo Blasius Sumaryo, dalam homilinya Romo menyampaikan pesan mengenai nilai “taat dan hormat” yang semakin hari semakin memudar di tengah masyarakat. Romo mengingatkan bahwa setiap orang perlu menghidupi dan mengajarkan nilai-nilai tersebut. Taat dan hormat tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan dan sesama, yang apabila dilakukan dengan tulus akan membawa kebaikan kembali kepada kita. Romo Blasius Sumaryo mengajak semua tamu undangan, terutama para pendidik, untuk menjadi teladan dalam mengembangkan dan mendidik nilai taat dan hormat bagi generasi muda. Menurutnya, sikap taat dan hormat harus diwariskan sebagai karakter dasar yang dapat menjadi bekal hidup bagi siswa-siswi. Melalui pendidikan karakter yang baik, nilai-nilai ini akan dapat diperjuangkan dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para generasi penerus. Lebih lanjut, Romo Maryo menekankan bahwa taat dan hormat adalah kekayaan pribadi yang perlu dipupuk dengan kesungguhan. Sikap ini tidak seharusnya dilakukan hanya untuk menyenangkan orang lain, tetapi sebagai wujud komitmen pribadi dalam mengembangkan diri. Dengan sikap taat yang tulus, seseorang akan mampu berkorban demi keselamatan bersama. Romo Maryo menyampaikan bahwa buah dari kasih dan pengorbanan adalah sukacita yang sejati, yang hanya dapat dicapai apabila kita memperjuangkan nilai-nilai ini dengan ketulusan. Setelah misa, acara dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan (SK) yang menandai akhir masa tugas Romo Edi, diikuti dengan prosesi pergantian pimpinan. Sebagai bagian dari rangkaian acara, dilakukan pula prosesi peleburan Kantor Operasional  Wilayah (KOW) menjadi Kantor Operasional Yayasan (KOY). Acara diwarnai dengan penampilan dari Guru SMA Antonius berupa drama musikal, serta pemberian kenang-kenangan kepada Romo Edi sebagai tanda terima kasih atas dedikasi. Setelah itu, seluruh hadirin menikmati makan bersama.

Misa Perdana Imam – Imam dari SCJ

15 Oktober 2024, Aula sekolah Antonius lantai 4 menjadi tempat pelakanaan misa perdana yang dipimpin oleh tiga imam dari Kongregasi Hati Kudus Yesus (SCJ): Romo Fransiskus Edi Setiawan SCJ , Romo Paulus Yosse Pratama SCJ, dan Romo Yuvens Kristia Efrata SCJ. Misa ini dihadiri oleh guru, tenaga kependidikan, serta para pensiunan dan beberapa Romo, serta Bruder. Misa dimulai dengan prosesi masuk yang khidmat, diiringi oleh koor yang dibawakan oleh siswa SMA Santo Antonius. Suara merdu dan harmoni yang indah mengisi aula, menambah suasana spiritual. Romo Edi menyampaikan pesan dalam homili. Sebagai manusia, kita sering kali terjebak dalam penampilan luar yang megah, padahal esensi sejati terletak pada hati kita,” tegas Romo Edi. Romo mengingatkan bahwa kecenderungan manusia modern adalah menggunggulkan apa yang tampak, sehingga sering kali yang biasa saja dibuat menjadi luar biasa. kita hanya fokus pada penampilan luar dan terjebak dalam pengaruh dunia, penting bagi kita untuk melakukan refleksi terhadap diri sendiri, keluarga, dan komunitas pendidikan kita. serta menekankan bahwa perhatian pada kedalaman hati akan memancarkan cahaya ilahi dalam kehidupan sehari-hari. “Ketika kita fokus pada hati, maka Tuhan akan hadir dan tampak dalam diri kita”. Setelah misa, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama, yang diikuti oleh semua yang mengikuti acara. Momen ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat ikatan antar guru, tenaga kependidikan, dan para pensiunan, serta merayakan kebersamaan dalam semangat komunitas Sekolah Santo Antonius. Sebagai penutup, acara diakhiri dengan makan bersama, di mana seluruh hadirin menikmati hidangan yang telah disediakan.

Retret Tendik KOW Lampung dan KOW Jakarta di Rumah Retret Giri Nugraha

Dibawah naungan Yayasan pendidikan Katolik leo Dehon pada tanggal 27 Juni – 30 Juni 2024, diadakan retret tenaga kependidikan yang diikuti oleh KOW Lampung dan Jakarta di Rumah Retret Giri Nugraha Palembang. Retret didampingi oleh Ketua Yayasan, Bruder dan Romo dari Jakarta serta Lampung, yang turut serta dalam kegiatan retret.  Pada tanggal 27 Juni 2024, retret tendik dibuka dengan perayaan Ekaristi oleh Romo Andreas Nugroho SCJ di Kapel Mikael. Setelah itu, peserta disambut secara resmi  dan diarahkan menuju sesi pertama dengan tema “Situasi Diri”. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk merenungkan perasaan pribadi dan memahami penyebab dari setiap perasaan tersebut. Kemudian dibagi ke dalam 8 kelompok untuk berdiskusi.   Sesi kelompok menghasilkan kesimpulan yang kaya akan pengalaman emosional : ada yang merasa sedih meninggalkan keluarga untuk sementara waktu, ada juga yang senang bisa bertemu kembali dengan teman lama dan berkenalan dengan wajah-wajah baru. Interaksi ini memperkuat kebersamaan di antara peserta, membangun jaringan hubungan yang erat sepanjang retret.   Malam harinya, suasana dilanjutkan dengan serangkaian aktivitas kebersamaan yang dinamis, berupa permainan dan nyanyian bersama. Aktivitas ini dirancang untuk mempererat ikatan di antara peserta, menciptakan momen kebersamaan yang berarti dan membangun semangat positif sebelum memasuki hari-hari berikutnya, dan hari pertama ditutup dengan doa bersama. Pada hari kedua, tanggal 28 Juni 2024, dimulai dengan pembukaan yang penuh keceriaan melalui games outdoor, di mana peserta terlibat dalam serangkaian permainan yang merepresentasikan kegiatan sehari-hari anak-anak di sekolah. Kegiatan ini tidak hanya menghibur tetapi juga membangun kerja sama dan semangat tim di antara peserta.   Sesi berikutnya diisi dengan materi “LOCORESA Semangatku” yang disampaikan oleh Diakon Hanes SCJ. Materi ini menyoroti nilai-nilai penting dalam pelayanan, termasuk cinta yang bukan hanya sekadar perasaan tetapi juga komitmen, belarasa bukan hanya empati kognitif dan emosional, kesiapan dalam hubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, gereja, dan masyarakat, serta pengorbanan yang mempersembahkan segala tindakan dan penderitaan untuk kesejahteraan jiwa-jiwa.   Setelah menerima materi, peserta kemudian mendiskusikan implementasi nilai tersebut dalam kelompok-kelompok kecil. Diskusi melibatkan pertanyaan tentang tindakan baik yang telah dilakukan dalam mendukung peserta didik dan lingkungan sekolah, serta evaluasi terhadap bagian pekerjaan yang belum mendapat perhatian penuh dan yang perlu ditingkatkan. Sesi berikutnya, “Kompetensi Seorang Pelayan”, menggali lebih dalam tentang kualitas yang diperlukan untuk menjadi seorang pelayan yang efektif dan inspiratif di lingkungan pendidikan. Hari kedua ditutup dengan Ekaristi dan sebagai penutup yang penuh makna, dilakukan juga doa bersama “Satu Karya, Satu Keluarga”, di mana peserta saling meminta maaf dan berterima kasih kepada rekan kerja. Setelah hari yang panjang, peserta diminta untuk beristirahat mengumpulkan energi untuk hari berikutnya. Hari Ketiga, 29 Juni 2024, Hari dimulai dengan sesi meditasi yang dipimpin oleh Bruder Yuwono SCJ. Meditasi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk merenungkan secara mendalam dan menemukan kedamaian dalam diri.   Sesi berikutnya adalah “Hospitality CHP” yang dibawakan oleh Sr. M. Stella. Fch., yang menyoroti pentingnya mengenal karakter diri sendiri dalam membangun budaya keramahan dan profesionalitas kerja. Peserta diajak untuk menggali keunikan dan karakteristik kepribadian masing-masing, serta belajar tentang pelayanan prima sebagai bentuk totalitas dan profesionalitas dalam pekerjaan. Konsep keramahan juga ditekankan sebagai pelayanan yang ramah, dilakukan dengan sepenuh hati.   Setelah pemaparan, peserta kemudian berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengidentifikasi sifat yang ada dalam diri masing- masing. Momentum berlanjut dengan persiapan pentas seni yang diorganisir dalam 4 kelompok. Setiap kelompok bekerja keras untuk menampilkan kreativitas mereka dalam pertunjukan “Dari Kita untuk Kita”.   Hari ditutup dengan Ekaristi dan diikuti oleh penampilan pentas seni dari setiap kelompok yang diatur secara adil. Setiap penampilan adalah ungkapan dari kerjasama tim dan bakat individu. dan kembali beristirahat. Tanggal 30 Juni 2024, menjadi momen penutup yang berarti bagi para peserta retret tenaga kependidikan KOW dari Lampung dan Jakarta di Rumah Retret Giri Nugraha. Hari dimulai dengan suasana penuh persiapan, di mana peserta sibuk bersiap dan merapikan barang-barang untuk perjalanan pulang. Setelah beberapa hari yang intens dengan refleksi mendalam, pembelajaran spiritual, dan memperkuat ikatan komunitas. Puncak acara ditutup dengan misa yang dilangsungkan di Kapel Biara Pusat Suster Charitas, sambil mengenang Romo. C. kristianto SCJ ke peristirahatan terakhirnya, setelah penutupan, peserta retret melanjutkan perjalanan pulang dan sampai dengan selamat.

Rapat Internal Yayasan Pendidikan Katolik Leo Dehon: Membahas Upaya Penuhi 8 Standar Nasional Pendidikan

Jakarta, 17 Juni 2024 – Yayasan Pendidikan Katolik (YPK) Leo Dehon mengadakan rapat internal pada hari Senin, 17 Juni 2024. Rapat ini dihadiri oleh Pembina, Pengawas, Pengurus, Kepala Kantor Operasional Wilayah (KOW) Jakarta dan Lampung, serta konsultan Pendidikan, Bpk Teguh Jatmiko. Rapat diawali dengan presentasi mengenai gambaran umum tentang Yayasan YPKLD, terutama unit-unit sekolah yang dikelola, yaitu SD-SMP-SMA Antonius Jakarta dan SMP-SMA Yos Sudarso Metro, Lampung. Presentasi ini memberikan gambaran tentang sejarah panjang perjalanan layanan Pendidikan di sekolah-sekolah tersebut, prestasi yang telah diraih, dan tantangan yang dihadapi, salah satunya adalah pemenuhan 8 Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Bapak Teguh Jatmiko dalam presentasinya mengatakan bahwa banyak hal yang layak disyukuri atas prestasi dan dedikasi yang telah ditunjukkan oleh YPKLD dan unit-unit sekolahnya selama ini. Namun, beliau juga mengemukakan bahwa pemenuhan 8 SNP menjadi fokus utama dalam rapat ini. Delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang dimaksud adalah: Standar Kompetensi Lulusan: Merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang berkaitan dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Standar Isi: Cakupan materi, kompetensi dasar, dan pembelajaran pada setiap tingkat satuan pendidikan. Standar Proses: Kriteria minimal proses pembelajaran berdasarkan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan: Kualifikasi, kompetensi, beban kerja, pengembangan keprofesian berkelanjutan, serta penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Standar Sarana dan Prasarana: Kriteria minimal sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Standar Pengelolaan: Kriteria minimal pengelolaan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Standar Pembiayaan: Kriteria minimal pembiayaan pendidikan pada satuan pendidikan. Standar Penilaian Pendidikan: Kriteria minimal penilaian pendidikan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan. Masing-masing peserta rapat memberikan pandangan dan masukannya yang membangun demi perbaikan dan perkembangan Yayasan dan unit sekolah di bawahnya dalam rangka pemenuhan 8 SNP. Diskusi berlangsung dengan semangat dan antusias, dengan semua peserta sepakat bahwa perlu dilakukan upaya bersama untuk meningkatkan kualitas layanan Pendidikan dengan semangat Dehonian. Harapannya, dengan terlaksananya rapat internal ini, YPKLD dan unit-unit sekolahnya dapat terus berkembang dan maju, serta memberikan layanan Pendidikan yang berkualitas bagi generasi muda bangsa, dengan memenuhi 8 SNP sebagai acuan utama.

Kegiatan Asrama Putera Leo Dehon

Kegiatan di asrama putra Leo Dehon bervariasi yang mencakup: Semua kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan pribadi, akademik, dan sosial para siswa di dalam asrama. Beberapa kegiatan yg dilakukan di asrama putra Leo Dehon adalah ziarah ke Rumah Retret La Verna, ziarah ke Gua Maria Fajar Mataram, Reakreasi Putra SMP dan SMA Asrama Putra Leo Dehon, Kegiatan jalan kelas 7 Ke Punggur, Kegiatan sepedahan ke bakau, melakukan perjalanan ke Yossel, Kelas 8 saat ziarah ke Gua Maria, melakukan perjalanan ke gisting.

Pembahasan Program Kerja Pembelajaran SD Antonius 1

Jakarta, 4 Juni 2024. SD Antonius 1 Jakarta Timur mengadakan pertemuan, bertujuan untuk membahas program kerja pembelajaran serta merencanakan kegiatan dan anggaran sekolah guna meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan di SD Antonius 1 Jakarta. Pertemuan ini dihadiri oleh para pendamping yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas dalam bidang pendidikan. Hadir sebagai pendamping adalah Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Katolik Leo Dehon, Bruder Petrus Triantara SCJ, dan Kepala Kantor Operasional Wilayah Jakarta, Rm Antonius Edi Prasetyo SCJ. Pertemuan dimulai pukul 08.00 pagi dan berlangsung hingga selesai, dihadiri oleh seluruh guru dan tenaga kependidikan SD Antonius 1 Jakarta. Mereka bersama-sama menghadiri acara ini dengan antusiasme untuk berkolaborasi dalam merancang langkah-langkah strategis sekolah. Pembahasan utama dalam pertemuan ini adalah mengenai program kerja pembelajaran yang akan diterapkan di SD Antonius 1 Jakarta dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Selain itu, juga dibahas rencana kegiatan dan anggaran sekolah (RKAS) untuk mendukung pelaksanaan program-program tersebut. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk semakin menemukan keunggulan SD Antonius 1 Jakarta dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan demikian, diharapkan kualitas pelayanan pendidikan di sekolah ini dapat terus ditingkatkan, memberikan manfaat yang optimal bagi para siswa dan seluruh tenaga kependidikan yang terlibat. Pertemuan strategis ini menandai komitmen SD Antonius 1 Jakarta dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan, serta terus berusaha menjadi lembaga pendidikan yang berkualitas dan mampu menghasilkan generasi unggul dan dapat memberikan dampak positif yang besar bagi perkembangan pendidikan di sekolah Antonius.

Copyright 2026 © Yayasan Pendidikan Katolik Leo Dehon